“Sepasang Sepatu” Tiada Kata Lelah
Tuk Mendapatkanmu
Judul buku : Sepatu Dahlan
Penulis : Krisna Pabhicara
Penerbit : PT Naura Books
Jumlah Halaman : 392
Harga : Rp. 62.500,00
Novel sepatu dahlan adalah novel pertama yang
diterbitkan PT Naura Books dari trilogi novel yang ditulis oleh Krisna
Pabhicara. Krisna Pabhicara merupakan seorang penulis prosa yang tulisannya
sudah banyak diterbitkan. Novel sepatu dahlan adalah novel ke-14 yang
ditulisnya dan termasuk kedalam kategori penjualan mega best seller. Beliau
lahir pada tanggal 10 November 1975 di Makassar, Sulawesi Selatan.
Novel ini menceritakan tentang
kehidupan seorang Dahlan Iskan dimasa lalunya. Tentang kisah perjuangan hidup
yang dialaminya semasa kecil di sebuah perkampungan kecil di Magetan, yaitu
Kebon Dalem. Kehidupan yang sangat keras karena kemiskinan telah mengajarinya
untuk terus berjuang mempertahankan hidup dan mengejar impiannya untuk membeli
“sepasang sepatu”. Rasa lapar adalah hal yang biasa bagi Dahlan, baginya ia
adalah sahabat terbaiknya. Namun, dibalik itu semua Dahlan tetaplah menjad9i
seorang periang dan sabar dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Karena,
masa kecilnya ia habiskan bersama keluarga dan sahabat-sahabat yang selalu
tulus menemaninya. Ketegasan seorang Ayah dan kelembutan seorang Ibu
mengajarinya tuk terus berjuang mempertahankan hidup walaupun dalam keadaan
serba kekurangan.
Novel ini merupakan novel yang
benar-benar menginspiratif. Ada hal-hal tersendiri yang membuat novel ini
sangat menarik untuk dibaca hingga air mata berlinang saat membacanya. Novel
ini sangat cocok dibaca para remaja masa kini lar ena menceritakan tentang
sebuah perjuangan bagaimana menjalani, melewati, dan melawan pahitnya kehidupan
dalam belenggu kemiskinan. Dan pada akhirnya kepahitan itu mengantarkannya ke
kehidupan yang lebih matang hingga menjadi orang sukses seperti sekarang dan
menjadi salah satu putera terbaik bangsa Indonesia.
Cerita dalam novel sepatu dahlan
diawali dengan kejadiaan saat Dahlan Iskan akan menghadapi operasi
transplantasi liver seorang pemuda China. Usai dibius, dalam keadaan setengah
sadar ia teringan pada masa lalunya di Kebon Dalem sebuah kampung kecil di
Magetan, Jawa Barat. Ia teringat semua kan bayang-bayang kehidupan yang pernha
singgah dan ia jalani semasa kecil. Dahlan dahulunya sekolah di SR Bukur,
setelah tamat ia ingin melanjutkan sekolahnya di SMP Magetan. Namun, karena
faktor ekonomi dan jarak yang ditempuh sangat jauh Bapak Dahlan melarangnya
untuk bersekolah di Magetan. Hingga akhirnya Dahlan memilih pilihan Bapaknya
untuk sekolah di Pasantren Takeran yang jaraknya lumayan tak jauh dari Kebon
Dalem.
Sepulang sekolah, Dahlan tak lantas
pergi bermain-main seperti anak-anak seusianya. Karena ia harus mengembala
domba dan melakukan pekerjaan lain seperti nguli
nyeset, nguli nandur, dan nguli
rumput demi sesuap makanan untuk mempertahankan hidup.
Tak jarang Dahlan sarapan dengan
segelas teh, sepotong ubi dan tiwul itupun jika ada. Jika rasa perih
menghampirinya akibat kelaparan dan taka ada makanan sama sekali Dahlan
mengikatkan sarung ke perutnya hingga rasa lapr yang dideritanya itu
perlahan-lahan hilang.
Suatu hari Ibunya masuk Rumah Sakit akibat terserang
penyakit liver yang juga pernah dialami pamannya. Keadaan semakin berat saat
Ibunya tak kunjung sembuh hingga akhirnya meninggal dunia. Dahlan sangat
merasakan kesedihan yang sangat mendalam, selain karena kehilangan belain
lembut kasih sayang seorang Ibu, pupuslah sudah harpan Dahlan tuk mmiliki
sepasang sepatu. Tapi, keadaan itu tak ubahnya terus menerus larut dalam
kesedihan, Dahlan sadar dan bangkit lagi, ia masih memiliki Bapak. Ya Bapak!
Pria yang begitu ia sayangi. Bapak Dahlan adalah seseorang yang sangat tegas,
keras dan disiplin. Dahlan harus berjuang keras demi Bapak dan Zain dan demi
sebuah senyuman Bapak yang tak pernah terlontar lagi semenjak kepergian Ibu. Hari demi hari telah dilalui Dahlan, prestasinya
pun semakin gemilang. Ia terpilih menjadi kapten bola volly di sekolahnya dan
terpilih menjadi salah satu pengurus Ikatan Santri Pasantren Takeran. Dan
akhirnya, Dahlan pun kembali melihat lontaran senyuman bangga Bapak dari buah
hasil prestasi yang ia dapatkan.
Berkat kemahirannya dalam memainkan bola volly dan
juga telah memenagkan beberapa perlombaan. Ia dipercaya oleh pegawai pabrik
gula Gorang Gareng yang ada di Magetan untuk melatih para putera/puteri mereka
bermain bola volly. Bagi Dahlan kesempatan ini sangat berharga dan tidak datang
untuk kedua kalinya, ia tak menyianyiakannya sama sekali lalu ia lantas
menerima tawaran para egawai pabrik tersebut. Dan dari sinilah Dahlan mengais
rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Seiring dengan berjalannya
waktu, tak terasa upah yang ia kumpulkan dari hasil melatih anak-anak pegawai pabrik
Gorang Gareng cukup untuk membeli sebuah impiannya yang tak pernah terwujud
selama ini yaitu sepeda dan sepasang sepatu yang tak pernah tersentuh oleh
telapak kakinya.
Betapa menariknya novel ini sehingga menjadi novel
mega best seller diseluruh toko-toko buku. Mengapa tidak ? gaya bahasa yang
digunakan dalam kutipan novel ini sangat sederhana dan tidak berbeli-belit,
tetapi dibalik kelebihannya tersirat kelemahan pada novel ini, penggunaan
alurnya maju mundur sehingga agak membingungkan para pembaca untuk mengerti
betul cerita sang tokoh. Tetapi, meskipun demikian novel ini tetaplah menjadi
novel yang sangat menarik dan menginspiratif semua kalangan terutama para
generasi muda.
Dan pada akhirnya, kemiskinan bukanlah faktor
penghambat untuk meraih dan mewujudkan sebuah impian, jika kita memang
menjalaninya dengan sabar, iklhas dan benar suatu saat kita akan mendapatkan
pelajaran yang sangat berharga. Karena Tuhan telah menitipkan amanah dalam
setiap bentuk kehidupan. Buku ini sangat cocok dibaca oleh semua kalangan
terutama untuk generasi penerus karena menceritakan sebuah perjalanan hidup
seorang tokoh kebanggaan bangsa Indonesia, bagaimana ia menjalani dan melawan
hidupnya yang serba kekurangan dan hingga akhirnya kini ia dapat menggengam
kehidupan yang lebih cerah.
Isi tulisannya menarik. (y)
BalasHapusHahhah thank youu.. Tapi rada" tdak kutau pi pke blog bhh
BalasHapus