Minggu, 05 Juni 2016

MAKALAH BAHASA INDONESIA TENTANG PENURUNAN MORAL DAN ETIKA DI ERA MODERENISASI

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim,
            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT berkat rahmat, hidayah dan petunjuk-Nyalah sehingga kami mampu menyelesaikan penyusunan makalah Bahasa Indonesia ini. Makalah ini berisi tentang penurunan aklhak, moral dan etika para generasi muda akibat terpengaruh oleh zaman modern di era globalisasi.
            Tak lupa kami ucapkan terima kasih banyak kepada guru bidang studi atas bimbingannya dalam penyusunan makalah ini dan kepada teman-teman semua atas kerja sama dan partisipasinya sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.
Kami menyadari bahwa makalah in sangat jauh dari kata sempurna, masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Untuk itu saran, kritik dan masukan sangat kami butuhkan dari para pembaca demi kesempurnaan makalah kedepannya.
Semoga apa yang kami bahas dalam penyusunan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.








       Penyusun

  Kelompok VI



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................................................................................. i
KATA PENGANTAR ........................................................................................................................................................... ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................................................................
A.      LATAR BELAKANG ........................................................................................................................................... 1
B.       TUJUAN ................................................................................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................................................................................
A.      DEFENISI MORAL DAN ETIKA ....................................................................................................................... 3
B.       DAMPAK MODERENISASI DAN GLOBALISASI TERHADAP MORAL DAN ETIKA ........................ 4
C.       FAKTOR YANG MENYEBABKAN TERJADINYA PERUBAHAN MORAL DAN ETIKA .........5-7
D.      SOLUSI UNTUK MENGATASI PERUBAHAN MORAL DAN ETIKA ...................................................... 8
E.       DALIL-DALIL  YANG BERHUBUNGAN DENGAN MORAL DAN ETIKA ............................................... 8
BAB III PENUTUP ................................................................................................................................................................
A.      KESIMPULAN ...................................................................................................................................................... 9
B.       SARAN ................................................................................................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................................................... 10





BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Zaman sekarang adalah zaman yang dikenal dengan sebutan zaman modern. Arus moderenisasi dibawah dan dipengaruhi oleh peasatnya perkembangan di era globalisasi. Dimana dampak yang ditimbulkan sangat memprihatinkan. Sebenarnya, zaman ini dihadirkan untuk memberi sebuah dampak positif yaitu untuk mempermudah seseorang dalam melakukan segala sesuatu, bukan hanya untuk perorangan tapi untuk seluruh manusia di belahan dunia ini. Tapi, dibalik itu semua ada saja hal negatif yang ditimbulkan zaman ini bukan hanya satu dua bahkan lebih dari itu, yang juga mempengaruhi semua kalangaan.
Ya, hal tersebut tidak dapat lagi dipungkiri. Seiring dengan bertambahnya dan berkembangnya IPTEK, orang-orang terlena akan kenyamanan dan kemudahannya dan tidak berfikir apa sebenarnya yang akan ditimbulkan dari kenyamanan dan kemudahan sebuah alat elektronik ? Tentu saja sebuah “perubahan”. Kita bisa lihat sekarang bagaimana dampak yag ditimbulkan oleh arus moderenisasi. Semakin maju suatu zaman semakin memprihatinkan pula keadaanya. Dan di zaman sekarang sudah tidak ada lagi penanaman sikap, etika, moral dan aklhak.
Semakin tinggi frekuensi arus globalisasi di era moderenisasi sangat berpengaruh besar terhadap pergaulan bebas dengan lawan jenis, baik diperkotaan hingga pelosok desa. Kondisi semacam ini juga sangat berpengaruh terhadap ideologi masyarakat, sehingga ada sebahagian mereka beranggapan bahwa “kalau tidak bergaul dengan lawan jenis maka dinilai ketinggalan zaman”. Pergaulan bebas tidak hanya sebatas bergaul melainkan terkadang mendorong untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama, seperti berciuman, bercumburayu, dan bahkan terjebak dalam perzinahan. Secara mendasar hal semacam ini terjadi karena kebebasan diartikan secara mutlak tanpa ada butir-butir aturan yang menjaga jarak anatra mereka. Disadari ataupun tidak kita harus menjaga jarak dengan lain jenis. Anak-anak muda sekarang dengan enalnya tanpa ada malu sedikitpun karika berkencan arau bermesraan didepan umum seakan-akan itu adalah suatu kewajaran yang bukan larangan norma agama.
Hal diatas desebabkan karena rapuhnya pondasi agama, tidak ada lagi penanaman norma dan prinsip agama, pengetahuan agama sangat berkurang dan agama bukan menjadi bahagian dari mereka, sehingga apapun dengan semerta-mertanya mereka lakukan dan tak lain itulah yang menyebabkan lunturnya penanaman akhlak, moral, dan etika.




B.     Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah :
1.      Dapat mengetahui defenisi moral dan etika
2.      Dapat mengetahui dampak moderenisasi terhadap perubahan moral dan etika
3.      Dapat mengetahui faktor penyebab terjadinya perubahan moral dan etika
4.      Dapat mengetahui solusi untuk mengatasi perubahan moral dan etika
5.      Dapat mengetahui dalil-dalil yang berkaitan dengan moral dan etika















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Defenisi Moral dan Etika
1.      Moral
Moral berasal dari kata “mos” yang berarti kebiasaan. Dalam bahasa latin berarti Moralitas yang artinya istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang mempunyai nilai positif atau negatif.  Sedangkan, dalam kamus Bahasa Indonesia moral adalah penentuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan seseorang. Jadi, moral dapat diartikan sebagai istilah yang digunakan untuk memberikan batasan terhadap aktivitas manusia dengan nilai yang baik atau buruk, benar atau salah.
Di zaman sekarang moral memiliki nilai implisit karena banyak orang yang mempunyai moral dari sudut pandang yang sempit. Moral adalah sikap dasar yang diajarkan di sekolah, lingkungan keluarga maupun masyarakat yang setiap orang harus mempunyainya jika ia ingindihormati oleh sesamanya. Moral merupakan nilai keabsolutan dalam masyarakat secara utuh, penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat yang merupakan produk dari budaya dan agama. Moral adalah perbuatan, tingkah laku, ataupun ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan manusia. Apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai yang berlaku di masyarakat, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik begitupun sebaliknya.

2.      Etika
Etika berasal dari bahasa Yunani yaitu kata “Ethos” yang berarti hati nurani, watak, kesusilaan ataupun perlakuan yang pantas atau yang diharapkan. Dalam kamus Bahasa Indonesia etika berarti ilmu pengetahuan tentang asas-asas aklhak (moral). Secara harfiah etika disebut sebagai ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dengan memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran.
Pada dasarnya etika membahas tentang tingkah laku manusia. Tujuan etika adalah untuk mendapatkan ide yang sama bagi seluruh manusia disetiap waktu dan tempat tentang ukuran tingkah laku yang baik dan buruk sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran. Tetapi, dalam usaha mencapai tujuan etika banyak kesulitan yang harus dialami karena disetiap negara dibelahan dunia ini masing-masing mempunyai ukuran atau kriteria yang berlainan.
Tak bisa dipungkiri, etika dalam perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkain tindakan sehari-hari. Karena etika memang pada dasarnya membantu manusia untuk mengambil sikap dan tindakan secara tepat dalam menjalani kehidupan.

B.     Dampak Moderenisasi dan Globalisasi terhadap Moral dan Etika
Moderenisasi merupakan suatu proses transformasi dari suatu perubahan ke arah yang lebih maju dalam berbagai aspek di kehidupan masyarakat. Sedangkan globalisasi yang asal katanya dari global atau globe berarti bola dunia atau mendunia, jadi globalisasi merupakan suatu proses masuk ke lingkungan dunia.
Moderenisasi dan globalisasi dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat baik dalam bentuk positif maupun negatif. Adapun pengaruh yang ditimbulkan sebagai berikut          :
§  Sikap Positif
a.       Penerimaan secara terbuka, lebih dinamis, tidak terbelenggu hal-hal lama yang besifat kolot.
b.      Mengembangkan sikap antisipatif dan selektif kepekaan dalam menilai hal-hal yang akan atau sedang terjadi.

§  Sikap Negatif
a.       Menjadi tertutup.
b.      Acuh tak acuh.
c.       Kurang selektif dalam menyikapi perubahan moderenisasi.
d.      Masyarakat merasa aman dengan kondisi kehidupan yang ada.
e.       Tidak adanya selektivitas dalam menerima setiap hal-hal yang baru.
f.       Masyarakat awam kurang memahami arti strategis moderenisasi dan globalisasi.
Modereniasi dan globalisasi dengan gamapangnya dapat masuk ke kehidupan masyarakat melalui berbagai media, utamanya media elektronik seperti internet. Mengapa demikian ? karena fasilitas ini semua orang dapat dengan bebas mengakses informasi dari berbagai belahan dunia. Dengan kondisi seperti ini hanya pengetahuan dan kesadaran seseoranglah yang sangat menentukan sikapnya untuk menyaring informasi yang didapat. Apakah nantinya akan berdampak positif atau negatif terhadap dirinya, lingkungan, dan masyarakat. Untuk itu, diperlukan pemahaman agama yang baik sebagai dasar untuk menyaring informasi. Kurangnya selektivitas terhadap budaya asing yang masuk ke Indonesia, budaya tersebut dapat saja masuk pada masyarakat yang labil terhadap perubahan terutama pada remaja sehingga terjadilah penurunan etika dan moral pada masyarakat Indonesia.
Pada kenyataanya, efek yang ditimbulkan dari moderenisasi dan globalisasi yang bersifat positif ialah terciptanya masyarakat yang intelek dan melek terhadap perubahan perkembangan dunia. Tetapi juga tak bisa kita pungkiri dampak yang ditimbulkan lebih banyak mengarah ke negatif. Mengapa tidak, kita bisa lihat sekrang kita telah kehilangan budaya negara sendiri dan lebih condong ke budaya asing (budaya barat). Jika masyarakat Indonesia sendiri tidak menjaga dan mempelajari pengetahuan tentang kebudayaan Indonesia ada baiknya budaya barat yang ada itu disaring terlebih dahulu. Karena tidak semua budaya barat adalah baik. Jika kita terus menerus menerima dan menyerap budaya asing yang tidak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia, dapat terjadi penyimpangan etika dan moral bangsa Indonesia sendiri. Melalui penyimpangan etika dan moral tersebut, dapat pula tercipta pola kehidupan dan pergaulan yang menyimpang.

C.    Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Perubahan Moral dan Etika
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan moral dan etika, antara lain :
1.      Longgarnya Pegangan Terhadap Agama
Sudah menjadi tragedi dari dunia maju, dimana segala sesuatu hampir dapat dicapai dengan ilmu pengetahuan, sehingga keyakinan beragama mulai terdesak, kepercayaan kepada Tuhan tinggal simbol, larangan-larangan dan suruhan-suruhan Tuhan tidak diindahkan lagi. Dengan longgarnya pegangan seseorang pada ajaran agama, maka hilanglah kekuatan pengontrol yang ada didalam dirinya. Dengan demikian satu-satunya alat pengawas dan pengatur moral yang dimilikinya adalah masyarakat dengan hukum dan peraturanya. Namun biasanya pengawasan masyarakat itu tidak sekuat pengawasan dari dalam diri sendiri. Karena pengawasan masyarakat itu datang dari luar, jika orang luar tidak tahu, atau tidak ada orang yang disangka akan mengetahuinya, maka dengan senang hati orang itu akan berani melanggar peraturan-peraturan dan hukum-hukum sosial itu. Dan apabila dalam masyarakat itu banyak yang melakukuan pelanggaran moral, dengan sendirinya orang yang kurang iman tadi tidak akan mudah pula meniru melakukan pelanggaran-pelanggaran yang sama. Tetapi, jika setiap orang  berkeyakinan teguh kepada Tuhan serta menjalankan agama dengan sungguh-sungguh, tidak perlu lagi adanya pengawasan yang ketat, karena setiap orang sudah dapat menjaga dirinya sendiri, tidak mau melanggar hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan Tuhan. Sebaliknya dengan semakin jauhnya masyarakat dari agama, semakin sudah memelihara moral orang dalam masyarakat itu, dan semakin kacaulah suasana, karena semakin banyak pelanggaran-pelanggaran, hak, hukum dan nilai moral.


2.      Kurang efektifnya pembinaan moral yang dilakukan oleh rumah tangga, sekolah maupun masyarakat.
Pembinaan moral yang dilakukan oleh ketiga institusi ini tidak berjalan menurut semeStinya atau yang sebiasanya. Pembinaan moral dirumah tangga misalnya harus dilakukan dari sejak anak masih kecil, sesuai dengan kemampuan dan umurnya. Karena setiap anak lahir, belum mengerti mana yang benar dan mana yang salah, dan belum tahu batas-batas dan ketentuan moral yang tidak berlaku dalam lingkungannya. Tanpa dibiasakan menanamkan sikap yang dianggap baik untuk manumbuhkan moral, anak-anak akan dibesarkan tanpa mengenal moral itu. Pembinaan moral pada anak dirumah tangga bukan dengan cara menyuruh anak menghafalkan rumusan tentang baik dan buruk, melainkan harus dibiasakan. Zakiah Darajat berpendapat bahwa, moral bukanlah suatu pelajaran yang dapat dicapai dengan mempelajari saja, tanpa membiasakan hidup bermoral dari sejak keci. Moral itu tumbuh dari tindakan kepada pengertian dan tidak sebaliknya. Seperti halnya rumah tangga, sekolahpun dapat mengambil peranan yang penting dalam pembinaan moral anak didik. Hendaknya dapat diusahakan agar sekolah menjadi lapangan baik bagi pertumuhan dan perkembangan mental dan moral anak didik.
Di samping tempat pemberian pengetahuan, pengembangan bakat dan kecerdasan. Dengan kata lain, supaya sekolah merupakan lapangan sosial bagi anak-anak, dimana pertumbuhan mental, moral dan sosial serta segala aspek kepribadian berjalan dengan baik. Untuk menumbuhkan sikap moral yang demikian itu, pendidikan agama diabaikan di sekolah, maka didikan agama yang diterima dirumah tidak akan berkembang, bahkan mungkin terhalang. Selanjutnya masyarakat juga harus mengambil peranan penting dalam pembinaan moral. Masyarakat yang lebih rusak moralnya segera diperbaiki dan dimulai dari diri sendiri, keluarga dan orang-orang terdekat dengan kita. Karena kerusakan masyarakat itu sangat besar pengaruhnya dalam pembinaan moral anak-anak. Terjadinya kerusakan moral dikalangan pelajar dan generasi muda sebagaimana disebutakan diatas, karena tidak efektifnnya keluarga, sekolah dan masyarakat dalam pembinaan moral. Bahkan ketiga lembaga tersebut satu dan lainnya saling bertolak belakang, tidak seirama, dan tidak kondusif bagi pembinaan moral.
                                                                              
3.      Budaya yang materialistis, hedonistis dan sekularistis
Sekarang ini sering kita dengar dari radio atau bacaan dari surat kabar tentang anak-anak sekolah menengah yang ditemukan oleh gurunya atau polisi mengantongi obat-obat terlarang, gambar-gambar cabul, alat-alat kotrasepsi seperti kondom dan benda-banda tajam. Semua alat-alat tersebut biasanya digunakan untuk hal-hal yang dapat merusak moral. Namun, gejala penyimpangan tersebut terjadi karena pola hidup yang semata-mata mengejar kepuasan materi, kesenangan hawa nafsu dan tidak mengindahkan nilai-nilai agama. Timbulnya sikap tersebut tidak bisa dilepaskan dari derasnya arus budaya matrealistis, hedonistis dan sekularistis yang disalurkan melalui tulisan-tulisan, bacaan-bacaan, lukisan-lukisan, siaran-siaran, pertunjukan-pertunjukan dan sebagainya. Penyaluran arus budaya yang demikian itu didukung oleh para penyandang modal yang semata-mata mengeruk keuntungan material dan memanfaatkan kecenderungan para remaja, tanpa memperhatikan dampaknya bagi kerusakan moral. Derasnya arus budaya yang demikian diduga termasuk faktor yang paling besar andilnya dalam menghancurkan moral para remaja dan generasi muda pada umumnya.

4.      Belum adanya kemauan yang sungguh-sungguh dari pemerintah.
Seperti yang kita ketahui bahwa pemerintah memiliki kekuasaan (power), uang, teknologi, sumber daya manusia dan sebagainya tampaknya belum menunjukan kemauan yang sungguh-sunguh untuk melakukan pembinaan moral bangsa. Tapi, kenyataannya apa yang kita lihat sekarang hal yang demikian semakin diperparah lagi oleh adanya ulah sebagian elit penguasa yang semata-mata mengejar kedudukan, peluang, kekayaan dan sebagainya dengan cara-cara tidak mendidik, seperti korupsi, kolusi dan nepotisme yang hingga kini belum adanya tanda-tanda untuk hilang. Mereka asik memperebutkan kekuasaan, materi dan sebagainya dengan cara tidak terpuji, dan tidak memperhitungkan dampaknya bagi kerusakan moral bangsa. Bangsa jadi ikut-ikutan, tidak mau mendengarkan lagi apa yang disarankan dan dianjurkan oleh pemerintah, karena secara moral mereka sudah kehilangan daya efektifitasnya. Sikap sebagian elit penguasa yang demikian itu semakin memperparah moral bangsa, dan sudah waktunya dihentikan. Kekuasaan, uang, teknologi dan sumber daya yang dimiliki pemerintah seharusnya digunakan untuk merumuskan konsep pembinaan moral bangsa dan aplikasinya secara bersungguh-sungguh dan berkesinambungan.

Selain itu, terdapat juga beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan menurunnya moral dan etika generasi muda saat ini, diantaranya :
a.       Salah pergaulan.
b.      Orang tua yang kurang perhatian terhadap kondisi dan perkembangan anaknya.
c.       Ingin mengikuti trend.
d.      Himpitan ekonomi yang membuat para remaja stres dan butuh tempat pelarian.
e.       Kurangnya pendidikan agama dan moral
Faktor-faktor yang telah dipaparkan diatas sebagian besar merupakan faktor yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi. Dengan pesatnya perkembangan teknologi dizaman sekarang menyebabkan arus informasi menjadi transparan sehingga kemampuan masyarakat yang tidak dapat menyaring informasi dapat mengganggu etika dan moral remaja. Serta dampak lain yang dipengaruhi oleh pesatnya perkembangan teknologi ialah dapat membuat masyarakat melupakan tujuan utama manusia diciptakan, yaitu untuk beribadah.



D.    Solusi Untuk Mengatasi Perubahan Etika dan Moral
Ada beberapa faktor yang dapat diterapkan untuk mengatasi perubahan etika maupun moral remaja saat ini, antara lain :
§  Pandai-pandailah dalam memilah dan memilih teman dekat.
§  Peranan orang tua.
§  Memperluas wawasan dan pengetahuan.
§  Pengadaan pembinaan moral dan etika.
§  Meningkatkan iman dan taqwa.
§  Melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat positif.


E.     Dalil-Dalil yang Berhubungan dengan Penerapan Moral dan Etika
Adapun dalil-dalil yang berhubungan dengan penerapan nilai moral dan etiaka, anatara lain :
§  Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang sangat besar. (Q.S. An-nisa:114)
§  Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan ? Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (Q.S. Yasin:60)
§  Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (Q.S. Al-Anfal:2)
§  Katahuilah kamu didalam badan manusia terdapat segumpal darah. Apabila baik maka baiklah keseluruhan perbuatannya dan apabila buruk maka buruklah keseluruhan tingkah lakunya. Katahuilah kamu bahwa ia adalah hati. (Sabda Rasulullah SAW)
§  Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa paras kamu dan tidak kepada tubuh badan kamu, dan sesungguhnya Allah tetap melihat kepada hati kamu dan segala amalan kamu yang berlandaskan keiklhasan hati.
 (Sabda Rasulullah SAW)








BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan materi diatas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa moral dan etika merupakan suatu sumber utama yang dijadikan patokan sebagai penentu baik dan buruknya perilaku seseorang. Pada etika, penilaian baik buruk dapat dilihat berdasarkan pendapat akal pikiran dan pada moral dapat dilihat berdasarkan kebiasaan umum yang berlaku di masyarakat. Faktanya, kita bisa melihat keadaan dizaman, penanaman nilai dan etika sangat mengalami kemerosotan. Jika hal ini terus dibiarkan lambat laun akan merusak generasi masyarakat selanjutnya. Sehingga tidak mungkin zaman akan berganti lagi seperti zaman jahiliyah dahulu.
Perubahan moral dan etika terjadi akibat menurunnya moral, aklhak dan etika. Sehingga kehidupan yang mereka jalani tidak sesuai dengan tuntunan yang ada sehingga banyak diantara mereka terjerumus pada kehidupan atau pergaulan bebas.
Beberapa faktor yang menyebabkan menurunnya moral generasi muda antara lain adalah longgarnya pegangan terhadap agama, kurangnya perhatian orang tua, ingin mengikuti trend, kurang efektifnya pembinaan moral yang dilakukan oleh rumah tangga, sekolah maupun lingkungan masyarakat, dan bahkan himpitan ekonomi yang membuat para remaja stres dan butuh tempat pelarian.
Untuk mencegah dan atau memperbaiki kemorosotan etika dan moral ini, ada berbagai macam solusi yang dapat dilakukan seperti yang telah disebutkan di atas. Namun pada dasarnya, semua solusi tersebut mengarah pada pemahaman dan pengamalan yang sebenarnya pada ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits.



B.     Saran
Semoga dengan penyusunan makalah ini pembaca maupun penyusun dapat lebih mengetahui dan memahami perilaku etika dan  moral dalam kehidupan sehingga dapat mengaplikasikan perilaku etika dan moral sesuai dengan ajaran agama masing-masing, serta menjauhi dan meninggalkan perilaku yang tidak baik.




DAFTAR PUSTAKA

Cowley, sue.2011.Panduan Menajemen Perilaku Siswa.Jakarta:Penerbit Erlangga.
http://ms.wikipedia.org/wiki/Moral (diakses pada tanggal 08 Oktober 2014)

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Zaman sekarang adalah zaman yang dikenal dengan sebutan zaman modern. Arus moderenisasi dibawah dan dipengaruhi oleh peasatnya perkembangan di era globalisasi. Dimana dampak yang ditimbulkan sangat memprihatinkan. Sebenarnya, zaman ini dihadirkan untuk memberi sebuah dampak positif yaitu untuk mempermudah seseorang dalam melakukan segala sesuatu, bukan hanya untuk perorangan tapi untuk seluruh manusia di belahan dunia ini. Tapi, dibalik itu semua ada saja hal negatif yang ditimbulkan zaman ini bukan hanya satu dua bahkan lebih dari itu, yang juga mempengaruhi semua kalangaan.
Ya, hal tersebut tidak dapat lagi dipungkiri. Seiring dengan bertambahnya dan berkembangnya IPTEK, orang-orang terlena akan kenyamanan dan kemudahannya dan tidak berfikir apa sebenarnya yang akan ditimbulkan dari kenyamanan dan kemudahan sebuah alat elektronik ? Tentu saja sebuah “perubahan”. Kita bisa lihat sekarang bagaimana dampak yag ditimbulkan oleh arus moderenisasi. Semakin maju suatu zaman semakin memprihatinkan pula keadaanya. Dan di zaman sekarang sudah tidak ada lagi penanaman sikap, etika, moral dan aklhak.
Semakin tinggi frekuensi arus globalisasi di era moderenisasi sangat berpengaruh besar terhadap pergaulan bebas dengan lawan jenis, baik diperkotaan hingga pelosok desa. Kondisi semacam ini juga sangat berpengaruh terhadap ideologi masyarakat, sehingga ada sebahagian mereka beranggapan bahwa “kalau tidak bergaul dengan lawan jenis maka dinilai ketinggalan zaman”. Pergaulan bebas tidak hanya sebatas bergaul melainkan terkadang mendorong untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama, seperti berciuman, bercumburayu, dan bahkan terjebak dalam perzinahan. Secara mendasar hal semacam ini terjadi karena kebebasan diartikan secara mutlak tanpa ada butir-butir aturan yang menjaga jarak anatra mereka. Disadari ataupun tidak kita harus menjaga jarak dengan lain jenis. Anak-anak muda sekarang dengan enalnya tanpa ada malu sedikitpun karika berkencan arau bermesraan didepan umum seakan-akan itu adalah suatu kewajaran yang bukan larangan norma agama.
Hal diatas desebabkan karena rapuhnya pondasi agama, tidak ada lagi penanaman norma dan prinsip agama, pengetahuan agama sangat berkurang dan agama bukan menjadi bahagian dari mereka, sehingga apapun dengan semerta-mertanya mereka lakukan dan tak lain itulah yang menyebabkan lunturnya penanaman akhlak, moral, dan etika.




B.     Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah :
1.      Dapat mengetahui defenisi moral dan etika
2.      Dapat mengetahui dampak moderenisasi terhadap perubahan moral dan etika
3.      Dapat mengetahui faktor penyebab terjadinya perubahan moral dan etika
4.      Dapat mengetahui solusi untuk mengatasi perubahan moral dan etika
5.      Dapat mengetahui dalil-dalil yang berkaitan dengan moral dan etika















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Defenisi Moral dan Etika
1.      Moral
Moral berasal dari kata “mos” yang berarti kebiasaan. Dalam bahasa latin berarti Moralitas yang artinya istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang mempunyai nilai positif atau negatif.  Sedangkan, dalam kamus Bahasa Indonesia moral adalah penentuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan seseorang. Jadi, moral dapat diartikan sebagai istilah yang digunakan untuk memberikan batasan terhadap aktivitas manusia dengan nilai yang baik atau buruk, benar atau salah.
Di zaman sekarang moral memiliki nilai implisit karena banyak orang yang mempunyai moral dari sudut pandang yang sempit. Moral adalah sikap dasar yang diajarkan di sekolah, lingkungan keluarga maupun masyarakat yang setiap orang harus mempunyainya jika ia ingindihormati oleh sesamanya. Moral merupakan nilai keabsolutan dalam masyarakat secara utuh, penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat yang merupakan produk dari budaya dan agama. Moral adalah perbuatan, tingkah laku, ataupun ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan manusia. Apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai yang berlaku di masyarakat, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik begitupun sebaliknya.

2.      Etika
Etika berasal dari bahasa Yunani yaitu kata “Ethos” yang berarti hati nurani, watak, kesusilaan ataupun perlakuan yang pantas atau yang diharapkan. Dalam kamus Bahasa Indonesia etika berarti ilmu pengetahuan tentang asas-asas aklhak (moral). Secara harfiah etika disebut sebagai ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dengan memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran.
Pada dasarnya etika membahas tentang tingkah laku manusia. Tujuan etika adalah untuk mendapatkan ide yang sama bagi seluruh manusia disetiap waktu dan tempat tentang ukuran tingkah laku yang baik dan buruk sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran. Tetapi, dalam usaha mencapai tujuan etika banyak kesulitan yang harus dialami karena disetiap negara dibelahan dunia ini masing-masing mempunyai ukuran atau kriteria yang berlainan.
Tak bisa dipungkiri, etika dalam perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkain tindakan sehari-hari. Karena etika memang pada dasarnya membantu manusia untuk mengambil sikap dan tindakan secara tepat dalam menjalani kehidupan.

B.     Dampak Moderenisasi dan Globalisasi terhadap Moral dan Etika
Moderenisasi merupakan suatu proses transformasi dari suatu perubahan ke arah yang lebih maju dalam berbagai aspek di kehidupan masyarakat. Sedangkan globalisasi yang asal katanya dari global atau globe berarti bola dunia atau mendunia, jadi globalisasi merupakan suatu proses masuk ke lingkungan dunia.
Moderenisasi dan globalisasi dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat baik dalam bentuk positif maupun negatif. Adapun pengaruh yang ditimbulkan sebagai berikut          :
§  Sikap Positif
a.       Penerimaan secara terbuka, lebih dinamis, tidak terbelenggu hal-hal lama yang besifat kolot.
b.      Mengembangkan sikap antisipatif dan selektif kepekaan dalam menilai hal-hal yang akan atau sedang terjadi.

§  Sikap Negatif
a.       Menjadi tertutup.
b.      Acuh tak acuh.
c.       Kurang selektif dalam menyikapi perubahan moderenisasi.
d.      Masyarakat merasa aman dengan kondisi kehidupan yang ada.
e.       Tidak adanya selektivitas dalam menerima setiap hal-hal yang baru.
f.       Masyarakat awam kurang memahami arti strategis moderenisasi dan globalisasi.
Modereniasi dan globalisasi dengan gamapangnya dapat masuk ke kehidupan masyarakat melalui berbagai media, utamanya media elektronik seperti internet. Mengapa demikian ? karena fasilitas ini semua orang dapat dengan bebas mengakses informasi dari berbagai belahan dunia. Dengan kondisi seperti ini hanya pengetahuan dan kesadaran seseoranglah yang sangat menentukan sikapnya untuk menyaring informasi yang didapat. Apakah nantinya akan berdampak positif atau negatif terhadap dirinya, lingkungan, dan masyarakat. Untuk itu, diperlukan pemahaman agama yang baik sebagai dasar untuk menyaring informasi. Kurangnya selektivitas terhadap budaya asing yang masuk ke Indonesia, budaya tersebut dapat saja masuk pada masyarakat yang labil terhadap perubahan terutama pada remaja sehingga terjadilah penurunan etika dan moral pada masyarakat Indonesia.
Pada kenyataanya, efek yang ditimbulkan dari moderenisasi dan globalisasi yang bersifat positif ialah terciptanya masyarakat yang intelek dan melek terhadap perubahan perkembangan dunia. Tetapi juga tak bisa kita pungkiri dampak yang ditimbulkan lebih banyak mengarah ke negatif. Mengapa tidak, kita bisa lihat sekrang kita telah kehilangan budaya negara sendiri dan lebih condong ke budaya asing (budaya barat). Jika masyarakat Indonesia sendiri tidak menjaga dan mempelajari pengetahuan tentang kebudayaan Indonesia ada baiknya budaya barat yang ada itu disaring terlebih dahulu. Karena tidak semua budaya barat adalah baik. Jika kita terus menerus menerima dan menyerap budaya asing yang tidak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia, dapat terjadi penyimpangan etika dan moral bangsa Indonesia sendiri. Melalui penyimpangan etika dan moral tersebut, dapat pula tercipta pola kehidupan dan pergaulan yang menyimpang.

C.    Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Perubahan Moral dan Etika
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan moral dan etika, antara lain :
1.      Longgarnya Pegangan Terhadap Agama
Sudah menjadi tragedi dari dunia maju, dimana segala sesuatu hampir dapat dicapai dengan ilmu pengetahuan, sehingga keyakinan beragama mulai terdesak, kepercayaan kepada Tuhan tinggal simbol, larangan-larangan dan suruhan-suruhan Tuhan tidak diindahkan lagi. Dengan longgarnya pegangan seseorang pada ajaran agama, maka hilanglah kekuatan pengontrol yang ada didalam dirinya. Dengan demikian satu-satunya alat pengawas dan pengatur moral yang dimilikinya adalah masyarakat dengan hukum dan peraturanya. Namun biasanya pengawasan masyarakat itu tidak sekuat pengawasan dari dalam diri sendiri. Karena pengawasan masyarakat itu datang dari luar, jika orang luar tidak tahu, atau tidak ada orang yang disangka akan mengetahuinya, maka dengan senang hati orang itu akan berani melanggar peraturan-peraturan dan hukum-hukum sosial itu. Dan apabila dalam masyarakat itu banyak yang melakukuan pelanggaran moral, dengan sendirinya orang yang kurang iman tadi tidak akan mudah pula meniru melakukan pelanggaran-pelanggaran yang sama. Tetapi, jika setiap orang  berkeyakinan teguh kepada Tuhan serta menjalankan agama dengan sungguh-sungguh, tidak perlu lagi adanya pengawasan yang ketat, karena setiap orang sudah dapat menjaga dirinya sendiri, tidak mau melanggar hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan Tuhan. Sebaliknya dengan semakin jauhnya masyarakat dari agama, semakin sudah memelihara moral orang dalam masyarakat itu, dan semakin kacaulah suasana, karena semakin banyak pelanggaran-pelanggaran, hak, hukum dan nilai moral.


2.      Kurang efektifnya pembinaan moral yang dilakukan oleh rumah tangga, sekolah maupun masyarakat.
Pembinaan moral yang dilakukan oleh ketiga institusi ini tidak berjalan menurut semeStinya atau yang sebiasanya. Pembinaan moral dirumah tangga misalnya harus dilakukan dari sejak anak masih kecil, sesuai dengan kemampuan dan umurnya. Karena setiap anak lahir, belum mengerti mana yang benar dan mana yang salah, dan belum tahu batas-batas dan ketentuan moral yang tidak berlaku dalam lingkungannya. Tanpa dibiasakan menanamkan sikap yang dianggap baik untuk manumbuhkan moral, anak-anak akan dibesarkan tanpa mengenal moral itu. Pembinaan moral pada anak dirumah tangga bukan dengan cara menyuruh anak menghafalkan rumusan tentang baik dan buruk, melainkan harus dibiasakan. Zakiah Darajat berpendapat bahwa, moral bukanlah suatu pelajaran yang dapat dicapai dengan mempelajari saja, tanpa membiasakan hidup bermoral dari sejak keci. Moral itu tumbuh dari tindakan kepada pengertian dan tidak sebaliknya. Seperti halnya rumah tangga, sekolahpun dapat mengambil peranan yang penting dalam pembinaan moral anak didik. Hendaknya dapat diusahakan agar sekolah menjadi lapangan baik bagi pertumuhan dan perkembangan mental dan moral anak didik.
Di samping tempat pemberian pengetahuan, pengembangan bakat dan kecerdasan. Dengan kata lain, supaya sekolah merupakan lapangan sosial bagi anak-anak, dimana pertumbuhan mental, moral dan sosial serta segala aspek kepribadian berjalan dengan baik. Untuk menumbuhkan sikap moral yang demikian itu, pendidikan agama diabaikan di sekolah, maka didikan agama yang diterima dirumah tidak akan berkembang, bahkan mungkin terhalang. Selanjutnya masyarakat juga harus mengambil peranan penting dalam pembinaan moral. Masyarakat yang lebih rusak moralnya segera diperbaiki dan dimulai dari diri sendiri, keluarga dan orang-orang terdekat dengan kita. Karena kerusakan masyarakat itu sangat besar pengaruhnya dalam pembinaan moral anak-anak. Terjadinya kerusakan moral dikalangan pelajar dan generasi muda sebagaimana disebutakan diatas, karena tidak efektifnnya keluarga, sekolah dan masyarakat dalam pembinaan moral. Bahkan ketiga lembaga tersebut satu dan lainnya saling bertolak belakang, tidak seirama, dan tidak kondusif bagi pembinaan moral.
                                                                              
3.      Budaya yang materialistis, hedonistis dan sekularistis
Sekarang ini sering kita dengar dari radio atau bacaan dari surat kabar tentang anak-anak sekolah menengah yang ditemukan oleh gurunya atau polisi mengantongi obat-obat terlarang, gambar-gambar cabul, alat-alat kotrasepsi seperti kondom dan benda-banda tajam. Semua alat-alat tersebut biasanya digunakan untuk hal-hal yang dapat merusak moral. Namun, gejala penyimpangan tersebut terjadi karena pola hidup yang semata-mata mengejar kepuasan materi, kesenangan hawa nafsu dan tidak mengindahkan nilai-nilai agama. Timbulnya sikap tersebut tidak bisa dilepaskan dari derasnya arus budaya matrealistis, hedonistis dan sekularistis yang disalurkan melalui tulisan-tulisan, bacaan-bacaan, lukisan-lukisan, siaran-siaran, pertunjukan-pertunjukan dan sebagainya. Penyaluran arus budaya yang demikian itu didukung oleh para penyandang modal yang semata-mata mengeruk keuntungan material dan memanfaatkan kecenderungan para remaja, tanpa memperhatikan dampaknya bagi kerusakan moral. Derasnya arus budaya yang demikian diduga termasuk faktor yang paling besar andilnya dalam menghancurkan moral para remaja dan generasi muda pada umumnya.

4.      Belum adanya kemauan yang sungguh-sungguh dari pemerintah.
Seperti yang kita ketahui bahwa pemerintah memiliki kekuasaan (power), uang, teknologi, sumber daya manusia dan sebagainya tampaknya belum menunjukan kemauan yang sungguh-sunguh untuk melakukan pembinaan moral bangsa. Tapi, kenyataannya apa yang kita lihat sekarang hal yang demikian semakin diperparah lagi oleh adanya ulah sebagian elit penguasa yang semata-mata mengejar kedudukan, peluang, kekayaan dan sebagainya dengan cara-cara tidak mendidik, seperti korupsi, kolusi dan nepotisme yang hingga kini belum adanya tanda-tanda untuk hilang. Mereka asik memperebutkan kekuasaan, materi dan sebagainya dengan cara tidak terpuji, dan tidak memperhitungkan dampaknya bagi kerusakan moral bangsa. Bangsa jadi ikut-ikutan, tidak mau mendengarkan lagi apa yang disarankan dan dianjurkan oleh pemerintah, karena secara moral mereka sudah kehilangan daya efektifitasnya. Sikap sebagian elit penguasa yang demikian itu semakin memperparah moral bangsa, dan sudah waktunya dihentikan. Kekuasaan, uang, teknologi dan sumber daya yang dimiliki pemerintah seharusnya digunakan untuk merumuskan konsep pembinaan moral bangsa dan aplikasinya secara bersungguh-sungguh dan berkesinambungan.

Selain itu, terdapat juga beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan menurunnya moral dan etika generasi muda saat ini, diantaranya :
a.       Salah pergaulan.
b.      Orang tua yang kurang perhatian terhadap kondisi dan perkembangan anaknya.
c.       Ingin mengikuti trend.
d.      Himpitan ekonomi yang membuat para remaja stres dan butuh tempat pelarian.
e.       Kurangnya pendidikan agama dan moral
Faktor-faktor yang telah dipaparkan diatas sebagian besar merupakan faktor yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi. Dengan pesatnya perkembangan teknologi dizaman sekarang menyebabkan arus informasi menjadi transparan sehingga kemampuan masyarakat yang tidak dapat menyaring informasi dapat mengganggu etika dan moral remaja. Serta dampak lain yang dipengaruhi oleh pesatnya perkembangan teknologi ialah dapat membuat masyarakat melupakan tujuan utama manusia diciptakan, yaitu untuk beribadah.



D.    Solusi Untuk Mengatasi Perubahan Etika dan Moral
Ada beberapa faktor yang dapat diterapkan untuk mengatasi perubahan etika maupun moral remaja saat ini, antara lain :
§  Pandai-pandailah dalam memilah dan memilih teman dekat.
§  Peranan orang tua.
§  Memperluas wawasan dan pengetahuan.
§  Pengadaan pembinaan moral dan etika.
§  Meningkatkan iman dan taqwa.
§  Melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat positif.


E.     Dalil-Dalil yang Berhubungan dengan Penerapan Moral dan Etika
Adapun dalil-dalil yang berhubungan dengan penerapan nilai moral dan etiaka, anatara lain :
§  Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang sangat besar. (Q.S. An-nisa:114)
§  Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan ? Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (Q.S. Yasin:60)
§  Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (Q.S. Al-Anfal:2)
§  Katahuilah kamu didalam badan manusia terdapat segumpal darah. Apabila baik maka baiklah keseluruhan perbuatannya dan apabila buruk maka buruklah keseluruhan tingkah lakunya. Katahuilah kamu bahwa ia adalah hati. (Sabda Rasulullah SAW)
§  Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa paras kamu dan tidak kepada tubuh badan kamu, dan sesungguhnya Allah tetap melihat kepada hati kamu dan segala amalan kamu yang berlandaskan keiklhasan hati.
 (Sabda Rasulullah SAW)








BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan materi diatas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa moral dan etika merupakan suatu sumber utama yang dijadikan patokan sebagai penentu baik dan buruknya perilaku seseorang. Pada etika, penilaian baik buruk dapat dilihat berdasarkan pendapat akal pikiran dan pada moral dapat dilihat berdasarkan kebiasaan umum yang berlaku di masyarakat. Faktanya, kita bisa melihat keadaan dizaman, penanaman nilai dan etika sangat mengalami kemerosotan. Jika hal ini terus dibiarkan lambat laun akan merusak generasi masyarakat selanjutnya. Sehingga tidak mungkin zaman akan berganti lagi seperti zaman jahiliyah dahulu.
Perubahan moral dan etika terjadi akibat menurunnya moral, aklhak dan etika. Sehingga kehidupan yang mereka jalani tidak sesuai dengan tuntunan yang ada sehingga banyak diantara mereka terjerumus pada kehidupan atau pergaulan bebas.
Beberapa faktor yang menyebabkan menurunnya moral generasi muda antara lain adalah longgarnya pegangan terhadap agama, kurangnya perhatian orang tua, ingin mengikuti trend, kurang efektifnya pembinaan moral yang dilakukan oleh rumah tangga, sekolah maupun lingkungan masyarakat, dan bahkan himpitan ekonomi yang membuat para remaja stres dan butuh tempat pelarian.
Untuk mencegah dan atau memperbaiki kemorosotan etika dan moral ini, ada berbagai macam solusi yang dapat dilakukan seperti yang telah disebutkan di atas. Namun pada dasarnya, semua solusi tersebut mengarah pada pemahaman dan pengamalan yang sebenarnya pada ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits.



B.     Saran
Semoga dengan penyusunan makalah ini pembaca maupun penyusun dapat lebih mengetahui dan memahami perilaku etika dan  moral dalam kehidupan sehingga dapat mengaplikasikan perilaku etika dan moral sesuai dengan ajaran agama masing-masing, serta menjauhi dan meninggalkan perilaku yang tidak baik.




DAFTAR PUSTAKA

Cowley, sue.2011.Panduan Menajemen Perilaku Siswa.Jakarta:Penerbit Erlangga.
http://ms.wikipedia.org/wiki/Moral (diakses pada tanggal 08 Oktober 2014)