KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim,
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT berkat rahmat, hidayah dan
petunjuk-Nyalah sehingga kami mampu menyelesaikan penyusunan makalah Bahasa
Indonesia ini. Makalah ini berisi tentang penurunan aklhak, moral dan etika
para generasi muda akibat terpengaruh oleh zaman modern di era globalisasi.
Tak
lupa kami ucapkan terima kasih banyak kepada guru bidang studi atas
bimbingannya dalam penyusunan makalah ini dan kepada teman-teman semua atas
kerja sama dan partisipasinya sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan
baik.
Kami menyadari bahwa makalah in sangat
jauh dari kata sempurna, masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini.
Untuk itu saran, kritik dan masukan sangat kami butuhkan dari para pembaca demi
kesempurnaan makalah kedepannya.
Semoga apa yang kami bahas dalam
penyusunan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan bisa diterapkan
dalam kehidupan sehari-hari.
Penyusun
Kelompok VI
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL ............................................................................................................................................................. i
KATA
PENGANTAR ........................................................................................................................................................... ii
DAFTAR
ISI .......................................................................................................................................................................... iii
BAB
I PENDAHULUAN ......................................................................................................................................................
A. LATAR BELAKANG ........................................................................................................................................... 1
B. TUJUAN ................................................................................................................................................................. 2
BAB
II PEMBAHASAN ......................................................................................................................................................
A. DEFENISI MORAL DAN ETIKA ....................................................................................................................... 3
B. DAMPAK MODERENISASI DAN GLOBALISASI TERHADAP MORAL
DAN ETIKA ........................ 4
C. FAKTOR YANG MENYEBABKAN TERJADINYA PERUBAHAN MORAL
DAN ETIKA .........5-7
D. SOLUSI UNTUK MENGATASI PERUBAHAN MORAL DAN ETIKA ...................................................... 8
E. DALIL-DALIL
YANG BERHUBUNGAN DENGAN MORAL DAN ETIKA ............................................... 8
BAB
III PENUTUP ................................................................................................................................................................
A. KESIMPULAN ...................................................................................................................................................... 9
B. SARAN ................................................................................................................................................................... 9
DAFTAR
PUSTAKA ........................................................................................................................................................... 10
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Zaman sekarang adalah zaman yang dikenal dengan
sebutan zaman modern. Arus moderenisasi dibawah dan dipengaruhi oleh peasatnya
perkembangan di era globalisasi. Dimana dampak yang ditimbulkan sangat
memprihatinkan. Sebenarnya, zaman ini dihadirkan untuk memberi sebuah dampak
positif yaitu untuk mempermudah seseorang dalam melakukan segala sesuatu, bukan
hanya untuk perorangan tapi untuk seluruh manusia di belahan dunia ini. Tapi,
dibalik itu semua ada saja hal negatif yang ditimbulkan zaman ini bukan hanya
satu dua bahkan lebih dari itu, yang juga mempengaruhi semua kalangaan.
Ya, hal tersebut tidak dapat lagi dipungkiri.
Seiring dengan bertambahnya dan berkembangnya IPTEK, orang-orang terlena akan
kenyamanan dan kemudahannya dan tidak berfikir apa sebenarnya yang akan
ditimbulkan dari kenyamanan dan kemudahan sebuah alat elektronik ? Tentu saja
sebuah “perubahan”. Kita bisa lihat sekarang bagaimana dampak yag ditimbulkan
oleh arus moderenisasi. Semakin maju suatu zaman semakin memprihatinkan pula keadaanya.
Dan di zaman sekarang sudah tidak ada lagi penanaman sikap, etika, moral dan
aklhak.
Semakin tinggi frekuensi arus globalisasi di era
moderenisasi sangat berpengaruh besar terhadap pergaulan bebas dengan lawan
jenis, baik diperkotaan hingga pelosok desa. Kondisi semacam ini juga sangat
berpengaruh terhadap ideologi masyarakat, sehingga ada sebahagian mereka
beranggapan bahwa “kalau tidak bergaul dengan lawan jenis maka dinilai
ketinggalan zaman”. Pergaulan bebas tidak hanya sebatas bergaul melainkan
terkadang mendorong untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama, seperti
berciuman, bercumburayu, dan bahkan terjebak dalam perzinahan. Secara mendasar
hal semacam ini terjadi karena kebebasan diartikan secara mutlak tanpa ada
butir-butir aturan yang menjaga jarak anatra mereka. Disadari ataupun tidak
kita harus menjaga jarak dengan lain jenis. Anak-anak muda sekarang dengan
enalnya tanpa ada malu sedikitpun karika berkencan arau bermesraan didepan umum
seakan-akan itu adalah suatu kewajaran yang bukan larangan norma agama.
Hal diatas desebabkan karena rapuhnya pondasi agama,
tidak ada lagi penanaman norma dan prinsip agama, pengetahuan agama sangat
berkurang dan agama bukan menjadi bahagian dari mereka, sehingga apapun dengan
semerta-mertanya mereka lakukan dan tak lain itulah yang menyebabkan lunturnya
penanaman akhlak, moral, dan etika.
B.
Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah :
1.
Dapat mengetahui
defenisi moral dan etika
2.
Dapat mengetahui
dampak moderenisasi terhadap perubahan moral dan etika
3.
Dapat mengetahui
faktor penyebab terjadinya perubahan moral dan etika
4.
Dapat mengetahui
solusi untuk mengatasi perubahan moral dan etika
5.
Dapat mengetahui
dalil-dalil yang berkaitan dengan moral dan etika
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Defenisi Moral dan Etika
1.
Moral
Moral
berasal dari kata “mos” yang berarti kebiasaan. Dalam bahasa latin berarti
Moralitas yang artinya istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya
dalam tindakan yang mempunyai nilai positif atau negatif. Sedangkan, dalam kamus Bahasa Indonesia moral
adalah penentuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan seseorang. Jadi,
moral dapat diartikan sebagai istilah yang digunakan untuk memberikan batasan
terhadap aktivitas manusia dengan nilai yang baik atau buruk, benar atau salah.
Di
zaman sekarang moral memiliki nilai implisit karena banyak orang yang mempunyai
moral dari sudut pandang yang sempit. Moral adalah sikap dasar yang diajarkan
di sekolah, lingkungan keluarga maupun masyarakat yang setiap orang harus
mempunyainya jika ia ingindihormati oleh sesamanya. Moral merupakan nilai
keabsolutan dalam masyarakat secara utuh, penilaian terhadap moral diukur dari
kebudayaan masyarakat setempat yang merupakan produk dari budaya dan agama.
Moral adalah perbuatan, tingkah laku, ataupun ucapan seseorang dalam
berinteraksi dengan manusia. Apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan
nilai yang berlaku di masyarakat, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang
baik begitupun sebaliknya.
2.
Etika
Etika
berasal dari bahasa Yunani yaitu kata “Ethos” yang berarti hati nurani, watak,
kesusilaan ataupun perlakuan yang pantas atau yang diharapkan. Dalam kamus
Bahasa Indonesia etika berarti ilmu pengetahuan tentang asas-asas aklhak
(moral). Secara harfiah etika disebut sebagai ilmu yang menyelidiki mana yang
baik dan mana yang buruk dengan memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh
yang dapat diketahui oleh akal pikiran.
Pada
dasarnya etika membahas tentang tingkah laku manusia. Tujuan etika adalah untuk
mendapatkan ide yang sama bagi seluruh manusia disetiap waktu dan tempat
tentang ukuran tingkah laku yang baik dan buruk sejauh yang dapat diketahui
oleh akal pikiran. Tetapi, dalam usaha mencapai tujuan etika banyak kesulitan
yang harus dialami karena disetiap negara dibelahan dunia ini masing-masing
mempunyai ukuran atau kriteria yang berlainan.
Tak
bisa dipungkiri, etika dalam perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan
manusia. Etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya
melalui rangkain tindakan sehari-hari. Karena etika memang pada dasarnya
membantu manusia untuk mengambil sikap dan tindakan secara tepat dalam
menjalani kehidupan.
B.
Dampak Moderenisasi dan Globalisasi terhadap Moral
dan Etika
Moderenisasi merupakan suatu proses
transformasi dari suatu perubahan ke arah yang lebih maju dalam berbagai aspek
di kehidupan masyarakat. Sedangkan globalisasi yang asal katanya dari global
atau globe berarti bola dunia atau mendunia, jadi globalisasi merupakan suatu
proses masuk ke lingkungan dunia.
Moderenisasi dan globalisasi dapat
mempengaruhi kehidupan masyarakat baik dalam bentuk positif maupun negatif.
Adapun pengaruh yang ditimbulkan sebagai berikut :
§ Sikap Positif
a.
Penerimaan secara
terbuka, lebih dinamis, tidak terbelenggu hal-hal lama yang besifat kolot.
b.
Mengembangkan
sikap antisipatif dan selektif kepekaan dalam menilai hal-hal yang akan atau
sedang terjadi.
§ Sikap Negatif
a.
Menjadi tertutup.
b.
Acuh tak acuh.
c.
Kurang selektif dalam
menyikapi perubahan moderenisasi.
d.
Masyarakat
merasa aman dengan kondisi kehidupan yang ada.
e.
Tidak adanya
selektivitas dalam menerima setiap hal-hal yang baru.
f.
Masyarakat awam
kurang memahami arti strategis moderenisasi dan globalisasi.
Modereniasi dan globalisasi dengan
gamapangnya dapat masuk ke kehidupan masyarakat melalui berbagai media,
utamanya media elektronik seperti internet. Mengapa demikian ? karena fasilitas
ini semua orang dapat dengan bebas mengakses informasi dari berbagai belahan dunia.
Dengan kondisi seperti ini hanya pengetahuan dan kesadaran seseoranglah yang
sangat menentukan sikapnya untuk menyaring informasi yang didapat. Apakah
nantinya akan berdampak positif atau negatif terhadap dirinya, lingkungan, dan
masyarakat. Untuk itu, diperlukan pemahaman agama yang baik sebagai dasar untuk
menyaring informasi. Kurangnya selektivitas terhadap budaya asing yang masuk ke
Indonesia, budaya tersebut dapat saja masuk pada masyarakat yang labil terhadap
perubahan terutama pada remaja sehingga terjadilah penurunan etika dan moral
pada masyarakat Indonesia.
Pada kenyataanya, efek yang
ditimbulkan dari moderenisasi dan globalisasi yang bersifat positif ialah
terciptanya masyarakat yang intelek dan melek terhadap perubahan perkembangan
dunia. Tetapi juga tak bisa kita pungkiri dampak yang ditimbulkan lebih banyak
mengarah ke negatif. Mengapa tidak, kita bisa lihat sekrang kita telah
kehilangan budaya negara sendiri dan lebih condong ke budaya asing (budaya
barat). Jika masyarakat Indonesia sendiri tidak menjaga dan mempelajari
pengetahuan tentang kebudayaan Indonesia ada baiknya budaya barat yang ada itu
disaring terlebih dahulu. Karena tidak semua budaya barat adalah baik. Jika
kita terus menerus menerima dan menyerap budaya asing yang tidak sesuai dengan
karakter bangsa Indonesia, dapat terjadi penyimpangan etika dan moral bangsa
Indonesia sendiri. Melalui penyimpangan etika dan moral tersebut, dapat pula tercipta
pola kehidupan dan pergaulan yang menyimpang.
C.
Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Perubahan Moral dan
Etika
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan
terjadinya perubahan moral dan etika, antara lain :
1.
Longgarnya Pegangan
Terhadap Agama
Sudah menjadi tragedi dari dunia maju, dimana segala sesuatu hampir
dapat dicapai dengan ilmu pengetahuan, sehingga keyakinan beragama mulai
terdesak, kepercayaan kepada Tuhan tinggal simbol, larangan-larangan dan
suruhan-suruhan Tuhan tidak diindahkan lagi. Dengan longgarnya pegangan
seseorang pada ajaran agama, maka hilanglah kekuatan pengontrol yang ada
didalam dirinya. Dengan demikian satu-satunya alat pengawas dan pengatur moral
yang dimilikinya adalah masyarakat dengan hukum dan peraturanya. Namun biasanya
pengawasan masyarakat itu tidak sekuat pengawasan dari dalam diri sendiri.
Karena pengawasan
masyarakat itu datang dari luar, jika orang luar tidak tahu, atau tidak ada
orang yang disangka akan mengetahuinya, maka dengan senang hati orang itu akan
berani melanggar peraturan-peraturan dan hukum-hukum sosial itu. Dan apabila dalam
masyarakat itu banyak yang melakukuan pelanggaran moral, dengan sendirinya
orang yang kurang iman tadi tidak akan mudah pula meniru melakukan
pelanggaran-pelanggaran yang sama. Tetapi, jika setiap orang berkeyakinan teguh kepada Tuhan serta menjalankan agama
dengan sungguh-sungguh, tidak perlu lagi adanya pengawasan yang ketat, karena
setiap orang sudah dapat menjaga dirinya sendiri, tidak mau melanggar
hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan Tuhan. Sebaliknya dengan semakin jauhnya
masyarakat dari agama, semakin sudah memelihara moral orang dalam masyarakat
itu, dan semakin kacaulah suasana, karena semakin banyak
pelanggaran-pelanggaran, hak, hukum dan nilai moral.
2.
Kurang efektifnya pembinaan moral yang dilakukan oleh rumah tangga,
sekolah maupun masyarakat.
Pembinaan moral yang dilakukan oleh ketiga institusi ini tidak berjalan
menurut semeStinya atau yang sebiasanya. Pembinaan moral dirumah
tangga misalnya harus dilakukan dari sejak anak masih kecil, sesuai dengan
kemampuan dan umurnya. Karena setiap anak lahir, belum mengerti mana yang benar
dan mana yang salah, dan belum tahu batas-batas dan ketentuan moral yang tidak
berlaku dalam lingkungannya. Tanpa dibiasakan menanamkan sikap yang dianggap
baik untuk manumbuhkan moral, anak-anak akan dibesarkan tanpa mengenal moral
itu. Pembinaan moral pada anak dirumah tangga bukan dengan cara menyuruh anak
menghafalkan rumusan tentang baik dan buruk, melainkan
harus dibiasakan. Zakiah Darajat berpendapat bahwa, moral bukanlah suatu pelajaran
yang dapat dicapai dengan mempelajari saja, tanpa membiasakan hidup bermoral
dari sejak keci. Moral itu tumbuh dari tindakan kepada pengertian dan tidak
sebaliknya. Seperti halnya rumah tangga, sekolahpun dapat mengambil peranan
yang penting dalam pembinaan moral anak didik. Hendaknya dapat diusahakan agar
sekolah menjadi lapangan baik bagi pertumuhan dan perkembangan mental dan moral
anak didik.
Di samping tempat pemberian pengetahuan, pengembangan bakat dan
kecerdasan. Dengan kata lain, supaya sekolah merupakan lapangan sosial bagi anak-anak,
dimana pertumbuhan mental, moral dan sosial serta segala aspek
kepribadian berjalan dengan baik. Untuk menumbuhkan sikap moral yang demikian
itu, pendidikan agama diabaikan di sekolah, maka didikan agama yang diterima
dirumah tidak akan berkembang, bahkan mungkin terhalang. Selanjutnya masyarakat
juga harus mengambil peranan penting dalam pembinaan moral. Masyarakat yang lebih rusak
moralnya segera diperbaiki dan dimulai dari diri sendiri, keluarga dan
orang-orang terdekat dengan kita. Karena kerusakan masyarakat itu sangat besar
pengaruhnya dalam pembinaan moral anak-anak. Terjadinya kerusakan moral
dikalangan pelajar dan generasi muda sebagaimana disebutakan diatas, karena
tidak efektifnnya keluarga, sekolah dan masyarakat dalam pembinaan moral. Bahkan
ketiga lembaga tersebut satu dan lainnya saling bertolak belakang, tidak
seirama, dan tidak kondusif bagi pembinaan moral.
3.
Budaya yang materialistis, hedonistis dan
sekularistis
Sekarang ini sering kita dengar dari radio atau bacaan dari surat kabar tentang
anak-anak sekolah menengah yang ditemukan oleh gurunya atau polisi mengantongi
obat-obat terlarang, gambar-gambar cabul, alat-alat
kotrasepsi seperti kondom dan benda-banda tajam. Semua alat-alat tersebut
biasanya digunakan untuk hal-hal yang dapat merusak moral. Namun, gejala
penyimpangan tersebut terjadi karena pola hidup yang semata-mata mengejar
kepuasan materi, kesenangan hawa nafsu dan tidak mengindahkan nilai-nilai
agama. Timbulnya sikap tersebut tidak bisa dilepaskan dari derasnya arus budaya
matrealistis, hedonistis dan sekularistis yang disalurkan melalui
tulisan-tulisan, bacaan-bacaan, lukisan-lukisan, siaran-siaran, pertunjukan-pertunjukan
dan sebagainya. Penyaluran arus budaya yang demikian itu didukung oleh para
penyandang modal yang semata-mata mengeruk keuntungan material dan memanfaatkan
kecenderungan para remaja, tanpa memperhatikan dampaknya bagi kerusakan moral.
Derasnya arus budaya yang demikian diduga termasuk faktor yang paling besar
andilnya dalam menghancurkan moral para remaja dan generasi muda pada umumnya.
4.
Belum adanya kemauan yang sungguh-sungguh dari pemerintah.
Seperti yang kita
ketahui bahwa pemerintah memiliki kekuasaan (power), uang, teknologi, sumber daya manusia dan
sebagainya tampaknya belum menunjukan kemauan yang sungguh-sunguh untuk
melakukan pembinaan moral bangsa. Tapi, kenyataannya apa yang kita lihat sekarang hal yang demikian semakin diperparah lagi oleh
adanya ulah sebagian elit penguasa yang semata-mata mengejar kedudukan,
peluang, kekayaan dan sebagainya dengan cara-cara tidak mendidik, seperti
korupsi, kolusi dan nepotisme yang hingga kini belum adanya tanda-tanda untuk
hilang. Mereka asik memperebutkan kekuasaan, materi dan sebagainya dengan cara tidak
terpuji, dan tidak memperhitungkan dampaknya bagi kerusakan moral bangsa.
Bangsa jadi ikut-ikutan, tidak mau mendengarkan lagi apa yang disarankan dan
dianjurkan oleh pemerintah, karena secara moral mereka sudah kehilangan
daya efektifitasnya. Sikap sebagian elit penguasa yang demikian itu semakin
memperparah moral bangsa, dan sudah waktunya dihentikan. Kekuasaan, uang,
teknologi dan sumber daya yang dimiliki pemerintah seharusnya digunakan untuk
merumuskan konsep pembinaan moral bangsa dan aplikasinya secara
bersungguh-sungguh dan berkesinambungan.
Selain itu,
terdapat juga beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan menurunnya moral dan
etika generasi muda saat ini, diantaranya :
a. Salah pergaulan.
b. Orang tua yang kurang perhatian terhadap kondisi dan perkembangan anaknya.
c. Ingin mengikuti trend.
d. Himpitan ekonomi yang membuat para remaja stres dan butuh tempat pelarian.
e. Kurangnya pendidikan agama dan moral
Faktor-faktor yang telah
dipaparkan diatas sebagian besar merupakan faktor yang dipengaruhi oleh
perkembangan teknologi. Dengan pesatnya perkembangan teknologi dizaman sekarang
menyebabkan arus informasi menjadi transparan sehingga kemampuan masyarakat
yang tidak dapat menyaring informasi dapat mengganggu etika dan moral remaja.
Serta dampak lain yang dipengaruhi oleh pesatnya perkembangan teknologi ialah
dapat membuat masyarakat melupakan tujuan utama manusia diciptakan, yaitu untuk
beribadah.
D.
Solusi Untuk Mengatasi Perubahan Etika dan Moral
Ada beberapa faktor yang dapat
diterapkan untuk mengatasi perubahan etika maupun moral remaja saat ini, antara
lain :
§ Pandai-pandailah dalam memilah dan memilih teman dekat.
§ Peranan orang tua.
§ Memperluas wawasan dan pengetahuan.
§ Pengadaan pembinaan moral dan etika.
§ Meningkatkan iman dan taqwa.
§ Melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat positif.
E.
Dalil-Dalil yang Berhubungan dengan Penerapan Moral dan Etika
Adapun dalil-dalil yang
berhubungan dengan penerapan nilai moral dan etiaka, anatara lain :
§ Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan mereka, kecuali pembicaraan
rahasia dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat
ma’ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barangsiapa yang
berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi
kepadanya pahala yang sangat besar. (Q.S. An-nisa:114)
§ Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak
menyembah syaitan ? Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (Q.S.
Yasin:60)
§ Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama
Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah
iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (Q.S.
Al-Anfal:2)
§ Katahuilah kamu didalam badan manusia terdapat segumpal darah. Apabila baik
maka baiklah keseluruhan perbuatannya dan apabila buruk maka buruklah
keseluruhan tingkah lakunya. Katahuilah kamu bahwa ia adalah hati. (Sabda
Rasulullah SAW)
§ Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa paras kamu dan tidak kepada
tubuh badan kamu, dan sesungguhnya Allah tetap melihat kepada hati kamu dan
segala amalan kamu yang berlandaskan keiklhasan hati.
(Sabda Rasulullah SAW)
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan materi diatas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa
moral dan etika merupakan suatu sumber utama yang dijadikan patokan sebagai
penentu baik dan buruknya perilaku seseorang. Pada etika, penilaian baik buruk
dapat dilihat berdasarkan pendapat akal pikiran dan pada moral dapat dilihat
berdasarkan kebiasaan umum yang berlaku di masyarakat. Faktanya, kita bisa
melihat keadaan dizaman, penanaman nilai dan etika sangat mengalami
kemerosotan. Jika hal ini terus dibiarkan lambat laun akan merusak generasi
masyarakat selanjutnya. Sehingga tidak mungkin zaman akan berganti lagi seperti
zaman jahiliyah dahulu.
Perubahan moral dan etika terjadi akibat menurunnya moral, aklhak dan
etika. Sehingga kehidupan yang mereka jalani tidak sesuai dengan tuntunan yang
ada sehingga banyak diantara mereka terjerumus pada kehidupan atau pergaulan
bebas.
Beberapa faktor yang menyebabkan menurunnya moral generasi muda antara lain
adalah longgarnya pegangan terhadap agama, kurangnya perhatian orang tua, ingin
mengikuti trend, kurang efektifnya pembinaan moral yang dilakukan oleh rumah
tangga, sekolah maupun lingkungan masyarakat, dan bahkan himpitan ekonomi yang
membuat para remaja stres dan butuh tempat pelarian.
Untuk mencegah dan atau memperbaiki kemorosotan etika dan moral ini, ada
berbagai macam solusi yang dapat dilakukan seperti yang telah disebutkan di
atas. Namun pada dasarnya, semua solusi tersebut mengarah pada pemahaman dan
pengamalan yang sebenarnya pada ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits.
B.
Saran
Semoga dengan penyusunan makalah ini pembaca maupun penyusun dapat lebih
mengetahui dan memahami perilaku etika dan
moral dalam kehidupan sehingga dapat mengaplikasikan perilaku etika dan
moral sesuai dengan ajaran agama masing-masing, serta menjauhi dan meninggalkan
perilaku yang tidak baik.
DAFTAR PUSTAKA
Cowley, sue.2011.Panduan Menajemen Perilaku Siswa.Jakarta:Penerbit Erlangga.
http://siswatibudiarti.wordpress.com/2010/12/23/kenakalan-remaja-bentuk-penyebab-dan-cara-mengatasinya/ (diakses pada tanggal 08 Oktober
2014)
http://ms.wikipedia.org/wiki/Moral (diakses pada
tanggal 08 Oktober 2014)
http://massofa.wordpress.com/2008/11/17/pengertian-etika-moral-dan-etiket/ (diakses pada
tanggal 08 Oktober 2014)
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Zaman sekarang adalah zaman yang dikenal dengan
sebutan zaman modern. Arus moderenisasi dibawah dan dipengaruhi oleh peasatnya
perkembangan di era globalisasi. Dimana dampak yang ditimbulkan sangat
memprihatinkan. Sebenarnya, zaman ini dihadirkan untuk memberi sebuah dampak
positif yaitu untuk mempermudah seseorang dalam melakukan segala sesuatu, bukan
hanya untuk perorangan tapi untuk seluruh manusia di belahan dunia ini. Tapi,
dibalik itu semua ada saja hal negatif yang ditimbulkan zaman ini bukan hanya
satu dua bahkan lebih dari itu, yang juga mempengaruhi semua kalangaan.
Ya, hal tersebut tidak dapat lagi dipungkiri.
Seiring dengan bertambahnya dan berkembangnya IPTEK, orang-orang terlena akan
kenyamanan dan kemudahannya dan tidak berfikir apa sebenarnya yang akan
ditimbulkan dari kenyamanan dan kemudahan sebuah alat elektronik ? Tentu saja
sebuah “perubahan”. Kita bisa lihat sekarang bagaimana dampak yag ditimbulkan
oleh arus moderenisasi. Semakin maju suatu zaman semakin memprihatinkan pula keadaanya.
Dan di zaman sekarang sudah tidak ada lagi penanaman sikap, etika, moral dan
aklhak.
Semakin tinggi frekuensi arus globalisasi di era
moderenisasi sangat berpengaruh besar terhadap pergaulan bebas dengan lawan
jenis, baik diperkotaan hingga pelosok desa. Kondisi semacam ini juga sangat
berpengaruh terhadap ideologi masyarakat, sehingga ada sebahagian mereka
beranggapan bahwa “kalau tidak bergaul dengan lawan jenis maka dinilai
ketinggalan zaman”. Pergaulan bebas tidak hanya sebatas bergaul melainkan
terkadang mendorong untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama, seperti
berciuman, bercumburayu, dan bahkan terjebak dalam perzinahan. Secara mendasar
hal semacam ini terjadi karena kebebasan diartikan secara mutlak tanpa ada
butir-butir aturan yang menjaga jarak anatra mereka. Disadari ataupun tidak
kita harus menjaga jarak dengan lain jenis. Anak-anak muda sekarang dengan
enalnya tanpa ada malu sedikitpun karika berkencan arau bermesraan didepan umum
seakan-akan itu adalah suatu kewajaran yang bukan larangan norma agama.
Hal diatas desebabkan karena rapuhnya pondasi agama,
tidak ada lagi penanaman norma dan prinsip agama, pengetahuan agama sangat
berkurang dan agama bukan menjadi bahagian dari mereka, sehingga apapun dengan
semerta-mertanya mereka lakukan dan tak lain itulah yang menyebabkan lunturnya
penanaman akhlak, moral, dan etika.
B.
Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah :
1.
Dapat mengetahui
defenisi moral dan etika
2.
Dapat mengetahui
dampak moderenisasi terhadap perubahan moral dan etika
3.
Dapat mengetahui
faktor penyebab terjadinya perubahan moral dan etika
4.
Dapat mengetahui
solusi untuk mengatasi perubahan moral dan etika
5.
Dapat mengetahui
dalil-dalil yang berkaitan dengan moral dan etika
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Defenisi Moral dan Etika
1.
Moral
Moral
berasal dari kata “mos” yang berarti kebiasaan. Dalam bahasa latin berarti
Moralitas yang artinya istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya
dalam tindakan yang mempunyai nilai positif atau negatif. Sedangkan, dalam kamus Bahasa Indonesia moral
adalah penentuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan seseorang. Jadi,
moral dapat diartikan sebagai istilah yang digunakan untuk memberikan batasan
terhadap aktivitas manusia dengan nilai yang baik atau buruk, benar atau salah.
Di
zaman sekarang moral memiliki nilai implisit karena banyak orang yang mempunyai
moral dari sudut pandang yang sempit. Moral adalah sikap dasar yang diajarkan
di sekolah, lingkungan keluarga maupun masyarakat yang setiap orang harus
mempunyainya jika ia ingindihormati oleh sesamanya. Moral merupakan nilai
keabsolutan dalam masyarakat secara utuh, penilaian terhadap moral diukur dari
kebudayaan masyarakat setempat yang merupakan produk dari budaya dan agama.
Moral adalah perbuatan, tingkah laku, ataupun ucapan seseorang dalam
berinteraksi dengan manusia. Apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan
nilai yang berlaku di masyarakat, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang
baik begitupun sebaliknya.
2.
Etika
Etika
berasal dari bahasa Yunani yaitu kata “Ethos” yang berarti hati nurani, watak,
kesusilaan ataupun perlakuan yang pantas atau yang diharapkan. Dalam kamus
Bahasa Indonesia etika berarti ilmu pengetahuan tentang asas-asas aklhak
(moral). Secara harfiah etika disebut sebagai ilmu yang menyelidiki mana yang
baik dan mana yang buruk dengan memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh
yang dapat diketahui oleh akal pikiran.
Pada
dasarnya etika membahas tentang tingkah laku manusia. Tujuan etika adalah untuk
mendapatkan ide yang sama bagi seluruh manusia disetiap waktu dan tempat
tentang ukuran tingkah laku yang baik dan buruk sejauh yang dapat diketahui
oleh akal pikiran. Tetapi, dalam usaha mencapai tujuan etika banyak kesulitan
yang harus dialami karena disetiap negara dibelahan dunia ini masing-masing
mempunyai ukuran atau kriteria yang berlainan.
Tak
bisa dipungkiri, etika dalam perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan
manusia. Etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya
melalui rangkain tindakan sehari-hari. Karena etika memang pada dasarnya
membantu manusia untuk mengambil sikap dan tindakan secara tepat dalam
menjalani kehidupan.
B.
Dampak Moderenisasi dan Globalisasi terhadap Moral
dan Etika
Moderenisasi merupakan suatu proses
transformasi dari suatu perubahan ke arah yang lebih maju dalam berbagai aspek
di kehidupan masyarakat. Sedangkan globalisasi yang asal katanya dari global
atau globe berarti bola dunia atau mendunia, jadi globalisasi merupakan suatu
proses masuk ke lingkungan dunia.
Moderenisasi dan globalisasi dapat
mempengaruhi kehidupan masyarakat baik dalam bentuk positif maupun negatif.
Adapun pengaruh yang ditimbulkan sebagai berikut :
§ Sikap Positif
a.
Penerimaan secara
terbuka, lebih dinamis, tidak terbelenggu hal-hal lama yang besifat kolot.
b.
Mengembangkan
sikap antisipatif dan selektif kepekaan dalam menilai hal-hal yang akan atau
sedang terjadi.
§ Sikap Negatif
a.
Menjadi tertutup.
b.
Acuh tak acuh.
c.
Kurang selektif dalam
menyikapi perubahan moderenisasi.
d.
Masyarakat
merasa aman dengan kondisi kehidupan yang ada.
e.
Tidak adanya
selektivitas dalam menerima setiap hal-hal yang baru.
f.
Masyarakat awam
kurang memahami arti strategis moderenisasi dan globalisasi.
Modereniasi dan globalisasi dengan
gamapangnya dapat masuk ke kehidupan masyarakat melalui berbagai media,
utamanya media elektronik seperti internet. Mengapa demikian ? karena fasilitas
ini semua orang dapat dengan bebas mengakses informasi dari berbagai belahan dunia.
Dengan kondisi seperti ini hanya pengetahuan dan kesadaran seseoranglah yang
sangat menentukan sikapnya untuk menyaring informasi yang didapat. Apakah
nantinya akan berdampak positif atau negatif terhadap dirinya, lingkungan, dan
masyarakat. Untuk itu, diperlukan pemahaman agama yang baik sebagai dasar untuk
menyaring informasi. Kurangnya selektivitas terhadap budaya asing yang masuk ke
Indonesia, budaya tersebut dapat saja masuk pada masyarakat yang labil terhadap
perubahan terutama pada remaja sehingga terjadilah penurunan etika dan moral
pada masyarakat Indonesia.
Pada kenyataanya, efek yang
ditimbulkan dari moderenisasi dan globalisasi yang bersifat positif ialah
terciptanya masyarakat yang intelek dan melek terhadap perubahan perkembangan
dunia. Tetapi juga tak bisa kita pungkiri dampak yang ditimbulkan lebih banyak
mengarah ke negatif. Mengapa tidak, kita bisa lihat sekrang kita telah
kehilangan budaya negara sendiri dan lebih condong ke budaya asing (budaya
barat). Jika masyarakat Indonesia sendiri tidak menjaga dan mempelajari
pengetahuan tentang kebudayaan Indonesia ada baiknya budaya barat yang ada itu
disaring terlebih dahulu. Karena tidak semua budaya barat adalah baik. Jika
kita terus menerus menerima dan menyerap budaya asing yang tidak sesuai dengan
karakter bangsa Indonesia, dapat terjadi penyimpangan etika dan moral bangsa
Indonesia sendiri. Melalui penyimpangan etika dan moral tersebut, dapat pula tercipta
pola kehidupan dan pergaulan yang menyimpang.
C.
Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Perubahan Moral dan
Etika
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan
terjadinya perubahan moral dan etika, antara lain :
1.
Longgarnya Pegangan
Terhadap Agama
Sudah menjadi tragedi dari dunia maju, dimana segala sesuatu hampir
dapat dicapai dengan ilmu pengetahuan, sehingga keyakinan beragama mulai
terdesak, kepercayaan kepada Tuhan tinggal simbol, larangan-larangan dan
suruhan-suruhan Tuhan tidak diindahkan lagi. Dengan longgarnya pegangan
seseorang pada ajaran agama, maka hilanglah kekuatan pengontrol yang ada
didalam dirinya. Dengan demikian satu-satunya alat pengawas dan pengatur moral
yang dimilikinya adalah masyarakat dengan hukum dan peraturanya. Namun biasanya
pengawasan masyarakat itu tidak sekuat pengawasan dari dalam diri sendiri.
Karena pengawasan
masyarakat itu datang dari luar, jika orang luar tidak tahu, atau tidak ada
orang yang disangka akan mengetahuinya, maka dengan senang hati orang itu akan
berani melanggar peraturan-peraturan dan hukum-hukum sosial itu. Dan apabila dalam
masyarakat itu banyak yang melakukuan pelanggaran moral, dengan sendirinya
orang yang kurang iman tadi tidak akan mudah pula meniru melakukan
pelanggaran-pelanggaran yang sama. Tetapi, jika setiap orang berkeyakinan teguh kepada Tuhan serta menjalankan agama
dengan sungguh-sungguh, tidak perlu lagi adanya pengawasan yang ketat, karena
setiap orang sudah dapat menjaga dirinya sendiri, tidak mau melanggar
hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan Tuhan. Sebaliknya dengan semakin jauhnya
masyarakat dari agama, semakin sudah memelihara moral orang dalam masyarakat
itu, dan semakin kacaulah suasana, karena semakin banyak
pelanggaran-pelanggaran, hak, hukum dan nilai moral.
2.
Kurang efektifnya pembinaan moral yang dilakukan oleh rumah tangga,
sekolah maupun masyarakat.
Pembinaan moral yang dilakukan oleh ketiga institusi ini tidak berjalan
menurut semeStinya atau yang sebiasanya. Pembinaan moral dirumah
tangga misalnya harus dilakukan dari sejak anak masih kecil, sesuai dengan
kemampuan dan umurnya. Karena setiap anak lahir, belum mengerti mana yang benar
dan mana yang salah, dan belum tahu batas-batas dan ketentuan moral yang tidak
berlaku dalam lingkungannya. Tanpa dibiasakan menanamkan sikap yang dianggap
baik untuk manumbuhkan moral, anak-anak akan dibesarkan tanpa mengenal moral
itu. Pembinaan moral pada anak dirumah tangga bukan dengan cara menyuruh anak
menghafalkan rumusan tentang baik dan buruk, melainkan
harus dibiasakan. Zakiah Darajat berpendapat bahwa, moral bukanlah suatu pelajaran
yang dapat dicapai dengan mempelajari saja, tanpa membiasakan hidup bermoral
dari sejak keci. Moral itu tumbuh dari tindakan kepada pengertian dan tidak
sebaliknya. Seperti halnya rumah tangga, sekolahpun dapat mengambil peranan
yang penting dalam pembinaan moral anak didik. Hendaknya dapat diusahakan agar
sekolah menjadi lapangan baik bagi pertumuhan dan perkembangan mental dan moral
anak didik.
Di samping tempat pemberian pengetahuan, pengembangan bakat dan
kecerdasan. Dengan kata lain, supaya sekolah merupakan lapangan sosial bagi anak-anak,
dimana pertumbuhan mental, moral dan sosial serta segala aspek
kepribadian berjalan dengan baik. Untuk menumbuhkan sikap moral yang demikian
itu, pendidikan agama diabaikan di sekolah, maka didikan agama yang diterima
dirumah tidak akan berkembang, bahkan mungkin terhalang. Selanjutnya masyarakat
juga harus mengambil peranan penting dalam pembinaan moral. Masyarakat yang lebih rusak
moralnya segera diperbaiki dan dimulai dari diri sendiri, keluarga dan
orang-orang terdekat dengan kita. Karena kerusakan masyarakat itu sangat besar
pengaruhnya dalam pembinaan moral anak-anak. Terjadinya kerusakan moral
dikalangan pelajar dan generasi muda sebagaimana disebutakan diatas, karena
tidak efektifnnya keluarga, sekolah dan masyarakat dalam pembinaan moral. Bahkan
ketiga lembaga tersebut satu dan lainnya saling bertolak belakang, tidak
seirama, dan tidak kondusif bagi pembinaan moral.
3.
Budaya yang materialistis, hedonistis dan
sekularistis
Sekarang ini sering kita dengar dari radio atau bacaan dari surat kabar tentang
anak-anak sekolah menengah yang ditemukan oleh gurunya atau polisi mengantongi
obat-obat terlarang, gambar-gambar cabul, alat-alat
kotrasepsi seperti kondom dan benda-banda tajam. Semua alat-alat tersebut
biasanya digunakan untuk hal-hal yang dapat merusak moral. Namun, gejala
penyimpangan tersebut terjadi karena pola hidup yang semata-mata mengejar
kepuasan materi, kesenangan hawa nafsu dan tidak mengindahkan nilai-nilai
agama. Timbulnya sikap tersebut tidak bisa dilepaskan dari derasnya arus budaya
matrealistis, hedonistis dan sekularistis yang disalurkan melalui
tulisan-tulisan, bacaan-bacaan, lukisan-lukisan, siaran-siaran, pertunjukan-pertunjukan
dan sebagainya. Penyaluran arus budaya yang demikian itu didukung oleh para
penyandang modal yang semata-mata mengeruk keuntungan material dan memanfaatkan
kecenderungan para remaja, tanpa memperhatikan dampaknya bagi kerusakan moral.
Derasnya arus budaya yang demikian diduga termasuk faktor yang paling besar
andilnya dalam menghancurkan moral para remaja dan generasi muda pada umumnya.
4.
Belum adanya kemauan yang sungguh-sungguh dari pemerintah.
Seperti yang kita
ketahui bahwa pemerintah memiliki kekuasaan (power), uang, teknologi, sumber daya manusia dan
sebagainya tampaknya belum menunjukan kemauan yang sungguh-sunguh untuk
melakukan pembinaan moral bangsa. Tapi, kenyataannya apa yang kita lihat sekarang hal yang demikian semakin diperparah lagi oleh
adanya ulah sebagian elit penguasa yang semata-mata mengejar kedudukan,
peluang, kekayaan dan sebagainya dengan cara-cara tidak mendidik, seperti
korupsi, kolusi dan nepotisme yang hingga kini belum adanya tanda-tanda untuk
hilang. Mereka asik memperebutkan kekuasaan, materi dan sebagainya dengan cara tidak
terpuji, dan tidak memperhitungkan dampaknya bagi kerusakan moral bangsa.
Bangsa jadi ikut-ikutan, tidak mau mendengarkan lagi apa yang disarankan dan
dianjurkan oleh pemerintah, karena secara moral mereka sudah kehilangan
daya efektifitasnya. Sikap sebagian elit penguasa yang demikian itu semakin
memperparah moral bangsa, dan sudah waktunya dihentikan. Kekuasaan, uang,
teknologi dan sumber daya yang dimiliki pemerintah seharusnya digunakan untuk
merumuskan konsep pembinaan moral bangsa dan aplikasinya secara
bersungguh-sungguh dan berkesinambungan.
Selain itu,
terdapat juga beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan menurunnya moral dan
etika generasi muda saat ini, diantaranya :
a. Salah pergaulan.
b. Orang tua yang kurang perhatian terhadap kondisi dan perkembangan anaknya.
c. Ingin mengikuti trend.
d. Himpitan ekonomi yang membuat para remaja stres dan butuh tempat pelarian.
e. Kurangnya pendidikan agama dan moral
Faktor-faktor yang telah
dipaparkan diatas sebagian besar merupakan faktor yang dipengaruhi oleh
perkembangan teknologi. Dengan pesatnya perkembangan teknologi dizaman sekarang
menyebabkan arus informasi menjadi transparan sehingga kemampuan masyarakat
yang tidak dapat menyaring informasi dapat mengganggu etika dan moral remaja.
Serta dampak lain yang dipengaruhi oleh pesatnya perkembangan teknologi ialah
dapat membuat masyarakat melupakan tujuan utama manusia diciptakan, yaitu untuk
beribadah.
D.
Solusi Untuk Mengatasi Perubahan Etika dan Moral
Ada beberapa faktor yang dapat
diterapkan untuk mengatasi perubahan etika maupun moral remaja saat ini, antara
lain :
§ Pandai-pandailah dalam memilah dan memilih teman dekat.
§ Peranan orang tua.
§ Memperluas wawasan dan pengetahuan.
§ Pengadaan pembinaan moral dan etika.
§ Meningkatkan iman dan taqwa.
§ Melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat positif.
E.
Dalil-Dalil yang Berhubungan dengan Penerapan Moral dan Etika
Adapun dalil-dalil yang
berhubungan dengan penerapan nilai moral dan etiaka, anatara lain :
§ Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan mereka, kecuali pembicaraan
rahasia dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat
ma’ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barangsiapa yang
berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi
kepadanya pahala yang sangat besar. (Q.S. An-nisa:114)
§ Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak
menyembah syaitan ? Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (Q.S.
Yasin:60)
§ Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama
Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah
iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (Q.S.
Al-Anfal:2)
§ Katahuilah kamu didalam badan manusia terdapat segumpal darah. Apabila baik
maka baiklah keseluruhan perbuatannya dan apabila buruk maka buruklah
keseluruhan tingkah lakunya. Katahuilah kamu bahwa ia adalah hati. (Sabda
Rasulullah SAW)
§ Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa paras kamu dan tidak kepada
tubuh badan kamu, dan sesungguhnya Allah tetap melihat kepada hati kamu dan
segala amalan kamu yang berlandaskan keiklhasan hati.
(Sabda Rasulullah SAW)
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan materi diatas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa
moral dan etika merupakan suatu sumber utama yang dijadikan patokan sebagai
penentu baik dan buruknya perilaku seseorang. Pada etika, penilaian baik buruk
dapat dilihat berdasarkan pendapat akal pikiran dan pada moral dapat dilihat
berdasarkan kebiasaan umum yang berlaku di masyarakat. Faktanya, kita bisa
melihat keadaan dizaman, penanaman nilai dan etika sangat mengalami
kemerosotan. Jika hal ini terus dibiarkan lambat laun akan merusak generasi
masyarakat selanjutnya. Sehingga tidak mungkin zaman akan berganti lagi seperti
zaman jahiliyah dahulu.
Perubahan moral dan etika terjadi akibat menurunnya moral, aklhak dan
etika. Sehingga kehidupan yang mereka jalani tidak sesuai dengan tuntunan yang
ada sehingga banyak diantara mereka terjerumus pada kehidupan atau pergaulan
bebas.
Beberapa faktor yang menyebabkan menurunnya moral generasi muda antara lain
adalah longgarnya pegangan terhadap agama, kurangnya perhatian orang tua, ingin
mengikuti trend, kurang efektifnya pembinaan moral yang dilakukan oleh rumah
tangga, sekolah maupun lingkungan masyarakat, dan bahkan himpitan ekonomi yang
membuat para remaja stres dan butuh tempat pelarian.
Untuk mencegah dan atau memperbaiki kemorosotan etika dan moral ini, ada
berbagai macam solusi yang dapat dilakukan seperti yang telah disebutkan di
atas. Namun pada dasarnya, semua solusi tersebut mengarah pada pemahaman dan
pengamalan yang sebenarnya pada ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits.
B.
Saran
Semoga dengan penyusunan makalah ini pembaca maupun penyusun dapat lebih
mengetahui dan memahami perilaku etika dan
moral dalam kehidupan sehingga dapat mengaplikasikan perilaku etika dan
moral sesuai dengan ajaran agama masing-masing, serta menjauhi dan meninggalkan
perilaku yang tidak baik.
DAFTAR PUSTAKA
Cowley, sue.2011.Panduan Menajemen Perilaku Siswa.Jakarta:Penerbit Erlangga.
http://siswatibudiarti.wordpress.com/2010/12/23/kenakalan-remaja-bentuk-penyebab-dan-cara-mengatasinya/ (diakses pada tanggal 08 Oktober
2014)
http://ms.wikipedia.org/wiki/Moral (diakses pada
tanggal 08 Oktober 2014)
http://massofa.wordpress.com/2008/11/17/pengertian-etika-moral-dan-etiket/ (diakses pada
tanggal 08 Oktober 2014)