Minggu, 15 Mei 2016

Resensi Novel Sepatu Dahlan





“Sepasang Sepatu” Tiada Kata Lelah Tuk Mendapatkanmu
             
Judul buku                  : Sepatu Dahlan
Penulis                         : Krisna Pabhicara
Penerbit                       : PT Naura Books
Jumlah Halaman          : 392
Harga                          : Rp. 62.500,00


Novel sepatu dahlan adalah novel pertama yang diterbitkan PT Naura Books dari trilogi novel yang ditulis oleh Krisna Pabhicara. Krisna Pabhicara merupakan seorang penulis prosa yang tulisannya sudah banyak diterbitkan. Novel sepatu dahlan adalah novel ke-14 yang ditulisnya dan termasuk kedalam kategori penjualan mega best seller. Beliau lahir pada tanggal 10 November 1975 di Makassar, Sulawesi Selatan.
            Novel ini menceritakan tentang kehidupan seorang Dahlan Iskan dimasa lalunya. Tentang kisah perjuangan hidup yang dialaminya semasa kecil di sebuah perkampungan kecil di Magetan, yaitu Kebon Dalem. Kehidupan yang sangat keras karena kemiskinan telah mengajarinya untuk terus berjuang mempertahankan hidup dan mengejar impiannya untuk membeli “sepasang sepatu”. Rasa lapar adalah hal yang biasa bagi Dahlan, baginya ia adalah sahabat terbaiknya. Namun, dibalik itu semua Dahlan tetaplah menjad9i seorang periang dan sabar dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Karena, masa kecilnya ia habiskan bersama keluarga dan sahabat-sahabat yang selalu tulus menemaninya. Ketegasan seorang Ayah dan kelembutan seorang Ibu mengajarinya tuk terus berjuang mempertahankan hidup walaupun dalam keadaan serba kekurangan.
            Novel ini merupakan novel yang benar-benar menginspiratif. Ada hal-hal tersendiri yang membuat novel ini sangat menarik untuk dibaca hingga air mata berlinang saat membacanya. Novel ini sangat cocok dibaca para remaja masa kini lar ena menceritakan tentang sebuah perjuangan bagaimana menjalani, melewati, dan melawan pahitnya kehidupan dalam belenggu kemiskinan. Dan pada akhirnya kepahitan itu mengantarkannya ke kehidupan yang lebih matang hingga menjadi orang sukses seperti sekarang dan menjadi salah satu putera terbaik bangsa Indonesia.
            Cerita dalam novel sepatu dahlan diawali dengan kejadiaan saat Dahlan Iskan akan menghadapi operasi transplantasi liver seorang pemuda China. Usai dibius, dalam keadaan setengah sadar ia teringan pada masa lalunya di Kebon Dalem sebuah kampung kecil di Magetan, Jawa Barat. Ia teringat semua kan bayang-bayang kehidupan yang pernha singgah dan ia jalani semasa kecil. Dahlan dahulunya sekolah di SR Bukur, setelah tamat ia ingin melanjutkan sekolahnya di SMP Magetan. Namun, karena faktor ekonomi dan jarak yang ditempuh sangat jauh Bapak Dahlan melarangnya untuk bersekolah di Magetan. Hingga akhirnya Dahlan memilih pilihan Bapaknya untuk sekolah di Pasantren Takeran yang jaraknya lumayan tak jauh dari Kebon Dalem.
            Sepulang sekolah, Dahlan tak lantas pergi bermain-main seperti anak-anak seusianya. Karena ia harus mengembala domba dan melakukan pekerjaan lain seperti nguli nyeset, nguli nandur, dan nguli rumput demi sesuap makanan untuk mempertahankan hidup.
            Tak jarang Dahlan sarapan dengan segelas teh, sepotong ubi dan tiwul itupun jika ada. Jika rasa perih menghampirinya akibat kelaparan dan taka ada makanan sama sekali Dahlan mengikatkan sarung ke perutnya hingga rasa lapr yang dideritanya itu perlahan-lahan hilang.
Suatu hari Ibunya masuk Rumah Sakit akibat terserang penyakit liver yang juga pernah dialami pamannya. Keadaan semakin berat saat Ibunya tak kunjung sembuh hingga akhirnya meninggal dunia. Dahlan sangat merasakan kesedihan yang sangat mendalam, selain karena kehilangan belain lembut kasih sayang seorang Ibu, pupuslah sudah harpan Dahlan tuk mmiliki sepasang sepatu. Tapi, keadaan itu tak ubahnya terus menerus larut dalam kesedihan, Dahlan sadar dan bangkit lagi, ia masih memiliki Bapak. Ya Bapak! Pria yang begitu ia sayangi. Bapak Dahlan adalah seseorang yang sangat tegas, keras dan disiplin. Dahlan harus berjuang keras demi Bapak dan Zain dan demi sebuah senyuman Bapak yang tak pernah terlontar lagi semenjak kepergian Ibu.  Hari demi hari telah dilalui Dahlan, prestasinya pun semakin gemilang. Ia terpilih menjadi kapten bola volly di sekolahnya dan terpilih menjadi salah satu pengurus Ikatan Santri Pasantren Takeran. Dan akhirnya, Dahlan pun kembali melihat lontaran senyuman bangga Bapak dari buah hasil prestasi yang ia dapatkan.
Berkat kemahirannya dalam memainkan bola volly dan juga telah memenagkan beberapa perlombaan. Ia dipercaya oleh pegawai pabrik gula Gorang Gareng yang ada di Magetan untuk melatih para putera/puteri mereka bermain bola volly. Bagi Dahlan kesempatan ini sangat berharga dan tidak datang untuk kedua kalinya, ia tak menyianyiakannya sama sekali lalu ia lantas menerima tawaran para egawai pabrik tersebut. Dan dari sinilah Dahlan mengais rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Seiring dengan berjalannya waktu, tak terasa upah yang ia kumpulkan dari hasil melatih anak-anak pegawai pabrik Gorang Gareng cukup untuk membeli sebuah impiannya yang tak pernah terwujud selama ini yaitu sepeda dan sepasang sepatu yang tak pernah tersentuh oleh telapak kakinya.
Betapa menariknya novel ini sehingga menjadi novel mega best seller diseluruh toko-toko buku. Mengapa tidak ? gaya bahasa yang digunakan dalam kutipan novel ini sangat sederhana dan tidak berbeli-belit, tetapi dibalik kelebihannya tersirat kelemahan pada novel ini, penggunaan alurnya maju mundur sehingga agak membingungkan para pembaca untuk mengerti betul cerita sang tokoh. Tetapi, meskipun demikian novel ini tetaplah menjadi novel yang sangat menarik dan menginspiratif semua kalangan terutama para generasi muda.
Dan pada akhirnya, kemiskinan bukanlah faktor penghambat untuk meraih dan mewujudkan sebuah impian, jika kita memang menjalaninya dengan sabar, iklhas dan benar suatu saat kita akan mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Karena Tuhan telah menitipkan amanah dalam setiap bentuk kehidupan. Buku ini sangat cocok dibaca oleh semua kalangan terutama untuk generasi penerus karena menceritakan sebuah perjalanan hidup seorang tokoh kebanggaan bangsa Indonesia, bagaimana ia menjalani dan melawan hidupnya yang serba kekurangan dan hingga akhirnya kini ia dapat menggengam kehidupan yang lebih cerah.

2 komentar: